Senin, 30 Mei 2011

Mengenali Susu Palsu atau Susu Campuran dan Tahu Sedikit Akibat, Dampak dan Antisipasi Tentang Enterobacter sakazakii (Bakteri Susu Formula)

Mengenali Susu Palsu atau Susu Campuran dan Tahu Sedikit Akibat, Dampak dan Antisipasi Tentang Enterobacter sakazakii (Bakteri Susu Formula)@INIUNIK Susu formula sangat dibutuhkan oleh bayi dan sangat perlu diperhatikan keamanan penggunaan susu tersebut. Akhir-akhir ini masalah pencemaran susu formula oleh bakteri Enterobacter sakazakii menjadi perhatian publik.

Susu formula sendiri adalah susu yang dibuat dari susu sapi atau susu buatan yang diubah komposisinya hingga dapat dipakai sebagai pengganti ASI. Susu sapi banyak digunakan sebagai pembuat susu formula karena lebih mudah didapatkan.

Dikenal beberapa jenis susu formula, yang bisa diberikan sesuai dengan tujuannya. 3 Jenis Susu Formula yaitu :
  1. Susu formula adaptasi (adapted) : susu disesuaikan dengan kebutuhan bagi bayi baru lahir) , untuk bayi baru lahir sampai umur 6 bulan.
  2. Susu formula awal lengkap (complete starting formula) : susu dengan susunan zat gizi lengkap dan pemberiannya dapt dimulai setelah bayi dilahirkan.
  3. Susu formula follow up (lanjutan) : susu mengganti formula bayi yang sedang dipakai, diperuntukan bagi bayi berumur 6 bulan keatas

Mengenali Susu Palsu atau Susu Campuran

Maraknya pemberitaan pencemaran susu formula, ada baiknya juga kita mengetahui bagaimana mengenali susu palsu, susu campuran atau susu yang sudah terkontaminasi bakteri :

1. Warna Susu

Warna alami susu adalah putih dan tidak bening. Hal ini disebabkan oleh pantulan cahaya yang mengenai bagian-bagian terkecil yang tersebar dalam susu, seperti butiran-butiran lemak. Berdasarkan hal tersebut, jika ditemukan warna yang tidak biasa pada susu, seperti warna biru, merah, atau kuning, maka hal itu menunjukan adanya sesuatu yang tidak alami dalam susu. Susu semacam ini tidak boleh langsung di minum begitu saja atau dijadikan sebagai bahan membuat makanan.

Warna biru menunjukkan adanya mikroba bacteyanogenes. Pada awalnya berupa bercak-bercak hiru di permukaan kemudian secara cepat menyebar pada susu secara keseluruhan. Warna kebiruan ini adalah hasil dari sebuah reaksi dari kondisi alkali. Selain itu, kondisi itu akan terlihat ketika lemak dipisahkan dari susu atau dikurangi kadarnya dari air, warna susu berubah dari putih menjadi kebiruan.

Adapun warna merah mungkin disebabkan oleh adanya beberapa jenis bakteri dalam susu seperti bakteri bactprodigiosum, atau disebabkan adanya darah dalam susu yang timbul karena infeksi pada tetek binatang penghasil susu, atau mungkin juga disebabkan karena kesalahan dalam proses pemerahan, khususnya susu yang diperah oleh alat otornatis, jika dilakukan bukan pada waktu yang tepat.

Sedang warna kuning biasanya diakibatkan karena susu terkena mikorba bacil-sinxatus. Bisa juga dilakukan uji-coba dengan cara mengambil sampel susu lalu diletakkan di galas susu yang bersih, untuk kemudian dilihat dengan penyinaran yang terang.

2. Aroma Susu

Susu alami memiliki aroma khusus yang tidak menusuk hidung, tapi mudah sekati menyerap aroma. Oleh karena itu terkadang susu memunculkan bau aneh yang menunjukkan bahwa susu itu sudah terkontaminasi. Bahkan terkadang bau makanan yang dikonsumsi hewan penghasil susu, misalnya, bawang putih atau bawang merah.

Terkadang, bau tidak alami ini disebabkan tempat atau wadah yang digunakan untuk susu tidak bersih.

3. Rasa Susu

Rasa susu berpulang pada pengaruh campuran antara manis dan asin, sehingga rasanya pun merupakan perpaduan manis dan asin. Di antara rasa susu yang tidak alami adalah :
  • a. Pahit. Hal ini disebabkan karena adanya sampah yang membusuk atau karena diakibatkan oleh tumbuhnya beberapa jenis mikroba.
  • b. Asin. Rasa asin biasanya ada pada susu yang diambil dari hewan yang sudah tua, atau yang diambil dari hewan yang terkena infeksi. Oleh karena itu, susu semacam ini tidak boleh dikonsumsi langsung atau langsung digunakan sebagai campuran makanan.

Di antara rasa aneh lainnya pada susu adalah rasa lemak, rasa basi, dan rasa amis.

Di sarankan untuk tidak mencicipi susu yang berbau busuk, karena dikhawatirkan sudah tercemari penyakit yang bisa pindah ke tubuh manusia. Tetapi, cukup hanya dengan menguji aromanya. Pengujian ini bisa dengan cara membuka Cutup lalu dicium langsung di permukaan wadah tersebut, karena aroma ini akan mudah sekali menguap dari susu, sehingga akan mudah diketahui kualitasnya.

4. Kekentalan

Susu memiliki kadar kekentalan yang lebih tinggi daripada air. Umumnya kohesitas ini akan berkurang apabila ditambah dengan air, atau kekurangan unsur minyak di dalamnya. Kohesitas pada susu juga berfungsi untuk mengetahui pemalsuan atau pencampuran pada susu dengan cara yang sederhana.

Tahu Sedikit Tentang Enterobacter sakazakii

E. sakazakii bakteri tergolong dalam family Enterobacteriaceae berbentuk batang atau kokobasil gram negative berukuran 0,3 – 1,0 x 0,6 - 6┬Ám. Koloni E. sakazakii membentuk pigmen kuning dengan intensitas pigmen meningkat apabila diinkubasi pada 25oC. E. sakazakii jarang dapat diisolasi dari spesimen klinik.

Habitat alami bakteri ini tidak diketahui secara pasti, diduga infeksi E. sakazakii pada neonatal terjadi transmisi melalui susu bubuk. Selain itu transmisi juga terjadi melalui penyiapan susu formula di dapur rumah sakit pada saat terjadi outbreak.

Enterobacter sakazakii merupakan bakteri gram negatif anaerob fakultatif, berbentuk koliform (kokoid), dan tidak membentuk spora. Bakteri ini termasuk dalam famili Enterobacteriaceae. Sampai tahun 1980 E. sakazakii dikenal dengan nama Enterobacter cloacae berpigmen kuning.

Pada tahun 1980, bakteri ini dikukuhkan dalam genus Enterobacter sebagai suatu spesies baru yang diberi nama Enterobacter sakazakii untuk menghargai seorang bakteriolog Jepang bernama Riichi Sakazakii. Reklasifikasi ini dilakukan berdasarkan studi DNA hibridisasi yang menunjukkan kemiripan 41% dengan Citrobacter freundii dan 51% dengan Enterobacter cloacae

Enterobacter sakazakii bukan merupakan mikroorganisme normal pada saluran pencernaan hewan dan manusia, sehingga disinyalir bahwa tanah, air, sayuran, tikus dan lalat merupakan sumber infeksi. Enterobacter sakazakii dapat ditemukan di beberapa lingkungan nindustri makanan (pabrik susu, coklat, kentan, sereal, dan pasta), lingkungan berair, sedimen tanah yang lembab. Dalam beberapa bahan makanan yang potensi terkontaminasi E. sakazakii antara lain keju, sosis, daging cincang awetan, sayuran, dan susu bubuk

E. sakazakii adalah suatu kuman jenis gram negatif dari family enterobacteriaceae. Organisma ini dikenal sebagai “yellow pigmented Enterobacter cloacae“. Pada tahun 1980, bakteri ini diperkenalkan sebagai bakteri jenis yang baru berdasarkan pada perbedaan analisa hibridasi DNA, reaksi biokimia dan uji kepekaan terhadap antibiotika. Disebutkan dengan hibridasi DNA menunjukkan E sakazakii 53-54% dikaitkan dengan 2 spesies yang berbeda genus yaitu Enterobacter dan Citrobacter. Pada penelitian tahun 2007, beberapa peneliti mengklarifikasi kriteria taxonomy dengan menggunakan cara lebih canggih yaitu dengan f-AFLP, automated ribotyping, full-length 16S rRNA gene sequencing and DNA-DNA hybridization. Hasil yang didapatkan adalah klasifikasi alternative dengan temuan genus baru yaitu Cronobacter yang terdiri dari 5 spesies. Hingga saat ini tidak banyak diketahui tentang virulensi dan daya patogeniotas bakteri berbahaya ini. Bahan enterotoxin diproduksi oleh beberapa jenis strains kuman. Dengan menggunakan kultur jaringan diketahui efek enterotoksin dan beberapa strain tersebut. Didapatkan 2 jenis strain bakteri yang berpotensi sebagai penyebab kematian, sedangkan beberapa strain lainnya non-patogenik atau tidak berbahaya. Hal inilah yang mungkin menjelaskan kenapa sudah ditemukan demnkian banyak susu terkontaminasi tetapi belum banyak dilaporkan terjadi korban terinfeksi bakteri tersebut.

E. sakazakii pertamakali ditemukan pada tahun 1958 pada 78 kasus bayi dengan infeksi meningitis. Sejauh ini juga dilaporkan beberapa kasus yang serupa pada beberapa Negara. Meskipun bakteri ini dapat menginfeksi pada segala usia tetapi resiko terbesar terkena adalah usia bayi. Peningkatan kasus yang besar di laporkan terjadi di bagian Neonatal Intensive Care Units (NICUs) beberapa rumah sakit di Inggris, Belanda, Amerika dan Kanada. Di Amerika Serikat angka kejadian infeksi E. sakazakii yang pernah dilaporkan adalah 1 per 100 000 bayi. Terjadi peningkatan angka kejadian menjadi 9.4 per 100 000 pada bayi dengan berat lahir sangat rendah (<1.5 kg) .

Menurut Badan Kesehatan Dunia, kejadian bayi terinfeksi bakteri ini cukup jarang terjadi. Review penelitian yang telah dilakukan WHO terhadap berbagai laporan infeksi E. sakazakii (Cronobacter spp.) di seluruh dunia didapatkan 120 kasus pada usia bayi hingga usia 3 tahun. Enam di antaranya adalah usia 6–11 bulan dan 2 kasus usia 1-3 tahun. Dari semua jumlah tersebut dilaporkan 27 kasus meninggal dunia.. Karena kasusnya sangat jarang maka Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) belum mengharuskan negara-negara anggota WHO melakukan pemeriksaan rutin terhadap bakteri Enterobacter sakazakii

Sejauh ini kasus infeksi Sakazakii di Indonesia, belum pernah dilaporkan. Meski beberapa laporan media masa atau beberapa kasus terjadi tuntutan orangtua karena anaknya dicurigai terinfeksi, tetapi ternyata dalam pemeriksaan medis lengkap tidak terbukti. Karena kasusnya sangat jarang dalam 42 tahun terakhir maka Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) belum mengharuskan negara-negara anggota WHO melakukan pemeriksaan rutin terhadap bakteri Enterobacter sakazakii

Sebenarnya temuan peneliti IPB tersebut mungkin tidak terlalu mengejutkan karena dalam sebuah penelitian prevalensi kontaminasi di 35 negara juga didapatkan dari 141 susu bubuk formula didapatkan sekitar 14% atau 20 kultur positif E. sakazakii. Dalam berbagai penelitian lainnya juga dilaporkan antara 5 - 22% bakteri Sakazakii terdeteksi dalam susu formula.

Meskipun infeksi karena bakteri ini sangat jarang, tetapi dapat mengakibatkan penyakit yang sangat berbahaya sampai dapat mengancam jiwa, di antaranya adalah neonatal meningitis (infeksi selaput otak pada bayi), hidrosefalus (kepala besar karena cairan otak berlebihan), sepsis (infeksi berat) , and necrotizing enterocolitis (kerusakan berat saluran cerna). Sedangkan pada beberapa kasus dilaporkan terjadi infeksi saluran kencing. Secara umum, tingkat kefatalan kasus (case-fatality rate) atau resiko untuk dapat mengancam jiwa berkisar antara 40-80% pada bayi baru lahir yang mendapat diagnosis infeksi berat karena penyakit ini.

Laporan mengenai infeksi E. sakazakii menunjukkan bahwa bakteri ini dapat menyebabkan radang selaput otak dan radang usus pada bayi. Kelompok bayi yang memiliki resiko tertinggi terinfeksi E. sakazakii yaitu neonatus (baru lahir hingga umur 28 hari), bayi dengan gangguan sistem tubuh, bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR), bayi prematur, dan bayi yang lahir dari ibu yang mengidap Human Immunodeficiency Virus (HIV)

Enterobacter sp. merupakan patogen nosokomil yang menjadi penyebab berbagai macam infeksi termasuk bakteremia, infeksi saluran pernapasan bagian bawah, infeksi kulit dan jaringan lunak, infeksi saluran kemih, infeksi dalam perut, radang jantung, radang sendi, osteomyelitis, dan infeksi mata

Angka kematian akibat infeksi E. sakazakii mencapai 40-80%. Sebanyak 50% pasien yang dilaporkan menderita infeksi E. sakazakii meninggal dalam waktu satu minggu setelah diagnosa. Hingga kini belum ada penentuan dosis infeksi E. sakazakii, namun sebesar 3 cfu/100 gram dapat digunakan sebagai perkiraan awal dosis infeks

Infeksi otak yang disebabkan karena E. sakazakii dapat mengakibatkan infark atau abses otak (kerusakan otak) dengan bentukan kista, gangguan persarafan yang berat dan gejala sisa gangguan perkembangan. Gejala yang dapat terjadi pada bayi atau anak di antaranya adalah diare, kembung, muntah, demam tinggi, bayi tampak kuning, kesadaran menurun (malas minum, tidak menangis), mendadak biru, sesak hingga kejang. Bayi prematur, berat badan lahir rendah (kurang dari 2.500 gram) dan penderita dengan gangguan kekebalan tubuh adalah individu yang paling beresiko untuk mengalami infeksi ini. Meskipun juga jarang bakteri patogen ini dapat mengakibatkan bakterimeia dan osteomielitis (infeksi tulang) pada penderita dewasa. Pada penelitian terakhir didapatkan kemampuan 12 jenis strain E. sakazakii untuk bertahan hidup pada suhi 58 C dalam proses pemanasan rehidrasi susu formula.

AKIBAT

E. sakazakii menyebabkan neonatal meningitis dan sepsis. Telah dilaporkan terjadi infeksi neonatal yang disebabkan oleh bakteri ini pada 3 neonatus di Iceland pada periode tahun 1986 – 1987. Dua neonatus terlahir normal dapat survive tetapi mengalami kerusakan jaringan otak, sedangkan satu neonatus dengan Down syndrom dan severe cardiac malformations akhirnya meninggal. E. sakazakii tidak ditemukan / diisolasi dari lingkungan bangsal neonates maupun dapur pembuatan susu di rumah sakit, tetapi banyak ditemukan pada susu formula bubuk yang digunakan di rumah sakit.

Pada tahun 1987 telah dilakukan penelitian kualitas beberapa susu bubuk pengganti ASI terhadap adanya kontaminasi family Enterobacteriaceae termasuk E. sakazakii. Dilakukan kultur terhadap 141 susu formula dari 35 negara ( tidak termasuk Indonesia), ternyata ditemukan 52,5% susu formula ditemukan family Enterobacteriaceae dengan konsentrasi tidak lebih dari 1CFU/gram susu formula pada setiap produk yang diteliti yang berasal dari 28 negara.

Spesies yang cukup banyak ditemukan terisolasi adalah Enterobacter agglomerans, Enterobacter cloacae, Enterobacter sakazakii, dan Klebsiella pneumonia. Sedangkan 31 isolat lainnya terdapat 14 spesies yaitu : Citrobacterfreundii, ; Escherichiacoli, ; Kiebsiella oxytoca, ; Citrobacter diversus, ; dan Hafnia alvei

E. sakazakii ditemukan pada kultur dari produk susu formula yang berasal dari 13 Negara yaitu : Australia, Belgia, Kanada, Denmark, Perancis , the Federal Republic of Germany, the German Democratic Republic, India, Netherlands, Selandia Baru, USSR, Uruguay dan United states.

Ditemukan satu isolate original E. sakazakii dari National Collection of Type Cultures yang berasal dari susu formula bubuk pada kaleng susu yang tertutup dan ada dugaan kontaminasi oleh Enterobacteriaceae terjadi setelah proses pasteurisasi produk susu.

Belum diketahui apakah terdapatnya family Enterobacteriaceae pada susu formula dengan kadar yang rendah pada penelitian tersebut berhubungan dengan kejadian kasus neonatal meningitis. Pemakaian susu formula bubuk yang tidak mengandung Family Enterobacteriaceae sangat perlu perhatian khusus terutama jika digunakan bagi bayi baru lahir atau bayi premature, karena bisa jadi terjadi multiplikasi bakteri selama proses persiapan pembuatan susu maupun penyimpanan susu yang terkontaminasi.

Apabila terjadi infeksi neonatal oleh Enterobacter spp. Termasuk E. sakazakii, dan oleh Klebsiella spp maka perlu dilakukan cek terhadap higien produk sebagai bagian pengukuran kontrol kualitas produk susu formula.

GEJALA

Gejala keracunan yang ditimbulkan oleh susu formula bayi tidak disebabkan oleh komponen biokimia atau bahan yang terkandung di dalamnya. Manusia dapat mengalami gejala keracunan karena susu tersebut telah terkontaminasi oleh bakteri. Susu dapat menjadi media pertumbuhan yang baik bagi bakteri, karena di dalamnya terdapat komponen biokimia yang juga diperlukan oleh bakteri untuk tumbuh dan berkembang. Selain E. sakazakii, bakteri lain yang sering mengkontaminasi susu formula adalah Clostridium botulinu, Citrobacter freundii, Leuconostoc mesenteroides Escherichia coli Salmonella agona, Salmonella anatum, Salmonella bredeney, Salmonella ealing, Salmonella Virchow, Serratia marcescens, Salmonella isangi dan berbagai jenis salmonella lainnya.

PROSES PENCEMARAN

Terjadinya kontaminasi bakteri dapat dimulai ketika susu diperah dari puting sapi. Lubang puting susu memiliki diameter kecil yang memungkinkan bakteri tumbuh di sekitarnya. Bakteri ini ikut terbawa dengan susu ketika diperah. Meskipun demikian, aplikasi teknologi dapat mengurangi tingkat pencemaran pada tahap ini dengan penggunaan mesin pemerah susu (milking machine), sehingga susu yang keluar dari puting tidak mengalami kontak dengan udara.

Pencemaran susu oleh mikroorganisme lebih lanjut dapat terjadi selama pemerahan (milking), penanganan (handling), penyimpanan (storage), dan aktivitas pra-pengolahan (pre-processing) lainnya. Mata rantai produksi susu memerlukan proses yang steril dari hulu hingga hilir, sehingga bakteri tidak mendapat kesempatan untuk tumbuh dan berkembang dalam susu. Peralatan pemerahan yang tidak steril dan tempat penyimpanan yang tidak bersih dapat menyebabkan tercemarnya susu oleh bakteri. Susu memerlukan penyimpanan dalam temperatur rendah agar tidak terjadi kontaminasi bakteri. Udara yang terdapat dalam lingkungan di sekitar tempat pengolahan merupakan media yang dapat membawa bakteri untuk mencemari susu. Proses pengolahan susu sangat dianjurkan untuk dilakukan di dalam ruangan tertutup.

Manusia yang berada dalam proses pemerahan dan pengolahan susu dapat menjadi penyebab timbulnya bakteri dalam susu. Tangan dan anggota tubuh lainnya harus steril ketika memerah dan mengolah susu. Bahkan, hembusan napas manusia ketika proses pemerahan dan pengolahan susu dapat menjadi sumber timbulnya bakteri. Sapi perah dan peternak yang berada dalam sebuah peternakan harus dalam kondisi sehat dan bersih agar tidak mencemari susu. Proses produksi susu di tingkat peternakan memerlukan penerapan good farming practice seperti yang telah diterapkan di negara-negara maju.

ANTISIPASI

Selain temuan IPB ternyata dari berbagai penelitian dan pengalaman di beberapa Negara tersebut sebenarnya WHO (World Health Organization), USFDA (United States Food and Drug Administration) dan beberapa negara maju lainnya telah menetapkan bahwa susu bubuk formula bayi bukanlah produk komersial yang steril. Sedangkan susu formula cair yang siap saji, dianggap sebagai produk komersial steril karena dengan proses pemanasan yang cukup. Sehingga di bagian perawatan bayi NICU, USFDA menggunakan perubahan rekomendasi dengan pemberian susu bayi formula cair siap saji untuk penderita bayi prematur yang rentan terjadi infeksi. Sayangnya di Indonesia produk susu tersebut belum banayak dan relative mahal harganya.

Rekomendasi lain yang harus diperhatikan untuk mengurangi resiko infeksi tersebut adalah cara penyajianh yang baik dan benar. Diantaranya dalah menyajikan hanya dalam jumlah sedikit atau secukupnya untuk setip kali minum untuk mengurangi kuantitas dan waktu susu formula terkontaminasi dengan udara kamar. Meminimalkan “hang time” atau waktu antara kontak susu dengan udara kamar hingga saat pemberian. Waktu yang direkomendasikan adalah tidak lebih dari 4 jam. Semakin lama waktu tersebut meningktkan resiko pertumbuhan mikroba dalam susu formula tersebut. Tetapi apabila susu tersebut telah dimunim sebaiknya bila lewat 2 jam dibuang.

Hal lain yang penting adalah memperhatikan dengan baik dan benar cara penyajian susu formula bagi bayi, sesuai instruksi dalam kaleng atau petunjuk umum. Peningkatan pengetahuan orangtua, perawat bayi dan praktisi klinis lainnya tentang prosedur persiapan dan pemberian susu formula yang baik dan benar harus terus dilakukan.

Terlepas benar tidaknya akurasi temuan tersebut sebaiknya pemerintah dalam hal ini departemen kesehatan harus bertindak cepat dan tepat sebelum terjadi kegelisahan. Sedangkan orangtua tetap waspada dan tidak perlu kawatir berlebihan ternyata temuan IPB dan USFDA tantara 13,5%-!4% susu berbakteri itu tetapi tidak pernah terjadi kasus luar biasa, karena mungkin sebagian besar adalah kuman non pathogen atau yang tidak berbahaya. Sampai saat ini hanya beberapa negara yang menlaporkan bahaya susu berbakteri tersebut tetapi sangat amat jarang. (Dari Berbagai Sumber)
Berlangganan Via Email Anda :
Related :

0 comments:

Poskan Komentar

Next Prev home
PlanetBlog - Komunitas Blog Indonesia Local Blogs Entertainment
Copyright 2012 - @INIUNIK